Cerpen tentang Anak Yatim Piatu ''Rana''

Bookmark and Share
Rana

Adalah satu hal yang selalu dilakukan Rana setiap sore. Setiap hari selepas berkeliling kota mencari objek foto yang bagus, dia selalu mendaki bukit kecil dibelakang kotanya itu, kemudian duduk di sana melepas penat. Sebelum pulang, ia tak pernah lupa memotret sebatang pohon besar yang menaunginya sepanjang sore. Sekalipun rutinitas itu telah mengakar dalam daripadanya, dan tak satu haripun ia terlupa melakukannya, ia tak tahu nama pohon itu. Tapi tak apa, baginya pesona pohon itu memberikan sesuatu yang berbeda.

Kebanyakan fotografer tidak suka mengambil foto dari objek yang sama terus menerus. Rana berbeda. Pohon itu milik Rana. Beberapa temannya sempat mencoba setelah melihat kumpulan fotonya mengenai pohon itu. Begitu ekspresif. Selalu ada yang berbeda dari setiap foto, semuanya menggambarkan sisi yang lain dari bukit itu. Saying, tak pernah ada yang berhasil. Hanya Rana yang mampu mewujudkan pesona pohon itu kedalam kameranya.

Ia tidak tahu mengapa, namun hal itu tidak membuatnya risau. Baginya, hal itu terjadi karena teman temannya yang lain tidak punya koneksi dengan pohon itu seperti dirinya. Baginya pohon itu lebih dari sekedar satu satunya pohon di bukit. Pohon itu adalah perwujudan dirinya. Tanaman yang tumbuh sendirian tanpa perhatian orang lain, kokoh walaupun berada di tempat yang tidak dilihat orang. Akarnya saling membelit liar, Rana yatim piatu. Ia menghuni panti asuhan sejak ia bisa mengingat. Kamera bekas sumbangan seseorang adalah pelariannya. Benda itu begitu menakjubkan, mampu mewujudkan kepingan kepingan memorinya dalam gambar. Dia memandang benda itu dengan kagum setiap harinya, dan setiap pulang sekolah selalu melompat keluar jendela untuk mencobanya pada semua hal yang disukainya.

Rana memang agak pemberontak di waktu waktu tertentu. Tapi dia bukanlah berandalan. Baginya, ada desir kecil yang selalu membawanya berpetualang bersama kamera usangnya. Ia berhenti jajan dan menabung uangnya untuk dua atau tiga rol film setiap bulannya.
Sebelum dia sadar, dia sudah menjadikannya mata pencahariannya, sekaligus pelepas gundahnya. Dia memenangkan kontes fotografi junior setelah dimarahi guru matematikanya, dia mendapat pekerjaan sebagai fotografer freelance setelah sang editor Koran melihat foto yang dibuatnya saat ia bolos sekolah. Ia tidak bangga pada pelanggaran pelanggaran yang dibuatnya, tapi ia bangga pada karyanya.

Ia mencintai dunianya, dunia yang dilihat dari celah viewfinder, yang selalu terlihat lebih luas di matanya. Dan itu satu alasan dia lebih menyukai gambar pemandangan disbanding manusia.
Sebagai profesional yang populer, tidak hanya dari kemampuannya namun juga sifatnya, Rana sering diundang ke berbagai tempat di luar negeri, membuat foto untuk iklan pariwisata, pamphlet konservasi alam dan sebagainya. Pekerjaan yang otomatis membawanya ke berbagai tempat indah di bumi, tapi baginya, tempat inilah rumahnya.

Ia masih menyukai rutinitasnya semasa sekolah, sebelum memulai karir profesional. Pohon ini selalu menyambutnya kapanpun Rana kembali. Banyak orang menganggapnya eksentrik. Malahan, ia pernah mendengar bisik bisik iri yang menuduhnya mendapat bakatnya dari si pohon. Ia mendengus dan menahan tawa mendengarkan kisah ini beredar. Begitu syirik! Ia nyaman berada di sana, seolah berada dalam pelukan Bunda Pertiwi, dibelai angin berdesir lembut, keluar dari segala tekanan perkotaan.

Sampai satu hari pemerintah hendak menebang pohon itu dan mengubah bukit itu menjadi kompleks gedung pemerintah. Mendengarnya, ia begitu marah, begitu frustasi.
Orang orang itu, berani mengusik oasenya! Mengubah satu lagi pojok yang tersisa dari bumi jadi gedung gedung kotak kotak yang kasar dan dingin! Mentang mentang lebih berkuasa.
Yang membuatnya sakit hati, tender dimenangkan oleh sebuah grup perusahaan besar, yang terdiri dari petinggi yang solid dan berduit, yang dengan kata lain menghilangkan kemungkinannya menuntut secara hukum.

Yang bisa dibuatnya dalam kapasitas yang dimilikinya adalah membuat foto foto yang dimilikinya menjadi brosur dan selebaran. Cara yang diharapkannya dapat membantu mempertahankan tanah itu. Ketika rakyat mulai berkumandang meminta pemerintah mendukung pelestarian dan buaknnya merusaknya, muncul lagi berita bahwa kompleks itu tak hanya erdiri atas sekedar gedung administrasi, namun juga pusat kesehatan dan fasilitas lain bagi anggotanya, yang jelas, mewah. Rana terbantu, karena dengan itu masyarakat semakin vokal.

sayang, harapan itu gugur pulalah saat para petinggi menampik tuduhan tuduhan rakyat, berkilah dengan alasan aneh seperti bahwa para anggota memerlukan semua itu agar tidak stress. Ingin rasanya Rana masuk dan menampar si petinggi yang diwawancarai. Buat rakyat mana?!

Kunjungannya ke bukit itu menjadi semakin sering dan sering semenjank mencuatnya kasus tersebut, seolah dengan kedatangannya dapat mempertahankan tempat itu sedikit lebih lama. Ia merasa bahwa itu terasa tidak adil. Tempatnya di dunia telah terenggut semenjak ia kecil, ketika ia dibuang dip anti asuhan. Sekarang dia telah mendapat tempat untuk dirinya, mereka seenaknya merebutnya darinya. Dialah yang menemukan tempat itu.
Pohon itu milik Rana. Tiada yang boleh mengambilnya darinya.

Ketika putusan telah ditetapkan dan tanggal pembangunan telah disiapkan,ada satu kejadian di tengah malam berangin yang mengubah semuanya.

Malam itu berbadai. Tidak ada yang berani keluar rumah, bahkan dengan jaket tiga lapis sekalipun. Tiang listrik serasa mau rubuh, begitu juga rumah mereka. Atap nyaris terbang, dan sekali kali terdengar bunyi genting rumah sebelah menghantam rumah lainnya.

Yang keesokan paginya ditemukan Rana adalah akar pohon itu, meranggas dan menghitam. Sekelilingnya hangus dengan mengerikan. Petir telah menyambar dan membumihanguskan bukit itu. Menggundulinya. Ia dapat merasa hatinya tercabik menyaksikan pemandangn tiu.
Kemudian tersiar berita pembangunan tidak jadi dilaksanakan. Kontur tanah itu rusak, ada lubang retakan merekah di tengah bukit dari akar akar pohon tua itu. Tempat yang dulunya indah itu tak lagi cocok jadi tempat rekreasi para pejabat.

Dalam hati ia berpikir, ia lebih senang tempat itu diambil kembali oleh Langit daripada dipakai para pejabat korup sok kuasa yang dibencinya. Biarpun begitu, ia tetap tidak bisa membiarkan bukit itu kehilangan cahayanya.

*****

Bukit itu beralas karpet beludru hijau rerumputan yang halus. Beberapa macam bunga mencuat dari semak semak. Anak anak bermain dengan gembira, mengejar kupu kupu beraneka warna.
Bertahun tahun telah lewat, dan hampir tidak ada lagi yang mengingat kejadian yang menghancurkan bukit itu. Hanya saja, lekat di ingatan mereka seseorang yang mendedikasikan hidupnya pada bukit itu, mengembalikannya pada kejayaan lamanya.
Rana.

****

Cerpen tentang anak Yatim Piatu ini adalah milik Lisa Santika Onggrid X6 (Cosinusix) SMAN 8 Pekanbaru. Gimana menurutmu cerpen yatim piatu ini?

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment